Manusia dan Keadilan

Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata keadilan?? Beberapa akan mengatakan mengatakan hukum, sama rata, sama-sama senang, sesuai porsinya. Atau bahkan ada yang berpikiran seperti negatif keadilan jaman sekarang bisa sama harganya dengan BBM yang semakin banyak dibayar semakin banyak didapat, sebelum lebih jauh kita ketahui dahulu apa arti keadilan.

Terdapat banyak tokoh yang mengkaji apa itu keadilan antara lain :

  1. Aristoteles : Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.
  2. Plato : Keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
  3. Socrates : Keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik.
    Namun pada umumnya keadilan diartikan sebagai tingkah laku yang berdasarkan atas rasa sama rata dan kesesuaian keseimbangan dalam menyelesaikan suatu masalah. Sehingga keadilan tidaklah selalu 2:2=1 namun terkadang ada bagian yang harus diutamakan mendapat porsi lebih besar dan bagian lebih kecil mendapat porsi yang lebih kecil. Tujuan keadilan bukan lah membagi rata melainkan menyeimbangkan susunan yang ada agar menjadi lebih baik.

Indonesia adalah negara hukum yang didasari Pancasila yang terdiri dari 5 sila, salah satu sila yaitu sila ke-5 berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, yang berarti pemerintah sudah mempunyai hukum yang jelas bahwa keadilan adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Pemerintah telah mengatur berbagai macam rencana demi mencapai tujuan keadilan ini, antar lain dengan 8 jalur pemerataan keadilan sosial yaitu :
1. Pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, berupa pangan, sandang dan perumahan
2. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan
3. Pembagian pendapatan
4. Kesempatan kerja
5. Kesempatan berusaha
6. Kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita
7. Penyebaran pembangunan
8. Kesempatan memperoleh keadilan.

Keadilan tidak hanya satu macam saja, tetapi bermacam-macam bergantung situasinya antara lain :

  1. Keadilan Legal atau Keadilan Moral
    Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
    Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk member tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik.
    Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keserasian.
  2.  Keadilan Distributif
    Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
  3.  Keadilan Komutatif
    Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

Kejujuran adalah awal yang baik dari sebuah niat yang baik, kejujuran berarti mengatakan apa adanya tanpa ada tambahan ataupun yang dikurangkan apalagi sampai memutarbalikan fakta. Seiring berkembangnya jaman dan juga berkembangnya macam-macam kejahatan kejujuran telah bergeser kedudukannya ada yang bilang “Kalau Jujur ya Hancur”, atau “Boleh berbohong asal berbohong untuk kebaikan”. Teori dan praktek memang sangat berbeda terkadang kita harus berbohong agar tidak menyakiti perasaan teman. Namun pada hakikatnya dalam Agama pun diajarkan manusia dituntut untuk selalu berlaku jujur, karena kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah sebab hanya akan menambah rantai kebohongan dan menambah rumit masalah yang ada.

Sumber :

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/manusia-dan-keadilan-beserta-contoh-kasus/

http://syahyutivariabel.blogspot.com/2010/10/delapan-jalur-pemerataan.html

http://www.google.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s